jump to navigation

SISTEM EKONOMI DAN KEUANGAN KAPITALIS MENCIPTAKAN INSTABILITAS November 13, 2008

Posted by gusuwik in Afkar Politik.
trackback

Dunia sedang mengalami krisis finansial. Ekonom kapitalis yang ‘jujur’ melihat realitas menuding bahwa sistem kapitalis lah penyebab terjadinya krisis ini. Namun, sebagian ekonom kapitalis yang lain berkilah bahwa ini hanyalah persoalan teknis semata. Bukan ideologis/sistemis. Oleh karenanya akan membuat keseimbangan baru. Pertanyaannya adalah apakah krisis finansial global akan berpengaruh kepada Indonesia? Sejauh apa pengaruhnya? Pemerintah mengklaim bahwa fundamental ekonomi Indonesia ‘kuat’ sehingga tidak mudah terpengaruh. Benarkah demikian? Bagaimana Islam memberikan solusinya? Bagaimana pandangan Islam agar fundamental ekonomi suatu Negara bisa kuat? Serta seperti apa praktik penerapan keuangan syariah? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, redaksi al-waie (gus uwik) mewawancara Ust Muhammad Riza Rosadi (DPP HTI). Berikut petikannya:

Menurut pandangan Ust, krisis finansial global saat ini apakah persoalan teknis ekonomi ataukah ideologis?

Sebagian ekonom menganggap bahwa krisis finansial global yang terjadi saat ini adalah persoalan teknis ekonomi. Krisis finansial yang menimpa pasar global khususnya Amerika Serikat saat ini adalah kejadian yang berulang sebagaimana krisis-krisis sebelumnya. Pada tahun 1929 dunia mengalami depresi besar. Krisis tersebut menimpa perekonomian AS, namun gejolak dan pengaruhnya dirasakan dunia. Dan krisis finansial tersebut juga kembali terjadi. Berawal dari krisis surat utang yang berbasis pada sektor properti kelas dua (subprime mortgage) yang tersejadi sejak agustus 2007, kemudian merambat hingga mengguncang pasar finansial AS dan pengaruhnya juga dirasakan secara global. Banyak perusahaan investasi, asuransi, dan perbankan yang terkait dengan subprome mortgage jatuh bangkut. Citigroup, Merril Lynch, Morgan Stanley, hingga Bear Stearn mengalami kerugian yang sangat besar akibat krisis surat utang tersebut. Bahkan Raksasa investasi Amerika Serikat Lehman Brothers akhirnya “tumbang”. Kebangkrutan Lehman Brothers ini menimbulkan gelombang besar melalui pasar keuangan dunia berupa jatuhnya pasar saham dunia serta gejolak mata uang.

Namun, kalau kita cermati krisis finansial global tersebut bukanlah persoalan teknikal ekonomi semata–yakni sekedar penyesuaian harga menuju keseimbangan baru–, melainkan persoalan ideologi sebagai akibat dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalis secara global. Penerapan ideologi kapitalis di bidang ekonomi telah menyebabkan krisis di berbagai penjuru dunia. Berbagai krisis ekonomi terus melanda dunia; krisis Finlandia tahun 1992, krisis ekonomi yang melanda Meksiko pada tahun 1994, bangkrutnya perusahaan raksasa Baring-Singapura tahun 1995, keguncangan bursa saham dunia Wall Street, New York pada tahun 1995, kredit macet ratusan trilyun rupiah pada bisnis properti di Jepang tahun 1996, krisis ekonomi yang diawali krisis moneter di Asia dan berbagai belahan dunia tahun 1997, krisis Rusia pada tahun 1998, Krisis Brasil pada tahun 1999, Krisis Turki tahun 2001, Krisis Argentina tahun 2001, hingga krisis finansial Amerika Serikat tahun 2007 yang berdampak global; semuanya itu tidak terlepas dari penerapan ideologi kapitalis di bidang ekonomi.

Sebenarnya, apa kelemahan mendasar sistem keuangan kapitalis?

Menurut saya, kelemahan mendasar yang ada pada sistem ekonomi dan keuangan kapitalis adalah adanya instabilitas yang secara alami ada pada sistem ekonomi kapitalis. Instabilitas inilah yang menjadi pemicu terjadinya krisis keuangan dan berdampak pada krisis ekonomi dunia. Dalam sistem ekonomi kapitalis, pembangunan ekonomi lebih banyak ditopang oleh pertumbuhan sektor non rill dan bukan sektor riil. Kegiatan spekulatif nonproduktif –yakni transaksi derivatif di pasar uang, bursa valas, bursa saham dan bursa berjangka komoditas–; transaksi ekonomi yang mengandung rente (riba); serta persoalan mata suatu negara yang tidak ditopang dengan nilai intrinsiknya adalah faktor-faktor utama menjadi pemicu instabilitas finansial dan moneter yang dapat berakibat pada krisis keuangan dan ekonomi.

Bagaimana anggapan yang mengatakan bahwa ekonomi kapitalis saat ini sebenarnya sedang keseimbangan baru. Benarkah demikian?

Memang, ekonom kapitalis beranggapan bahwa setiap terjadi gejolak bahkan krisis ekonomi, maka ekonomi akan membentuk kesimbangan baru. Keseimbangan baru berjalan sesuai dengan mekanisme ekonomi yang berjalan alami. Namun dalam banyak krisis ekonomi serta finansial yang ada, mekanisme ekonomi tidaklah berjalan alami melainkan harus melalui intervensi negara yang selama ini ditabukan dalam sistem ekonomi kapitalis. Artinya keseimbangan baru yang terjadi bukanlah berjalan alami tetapi dipaksakan melalui intervensi pemerintah. Ini menunjukkan bahwa keseimbangan baru yang terbentuk, bukanlah alami terjadi tetapi melalui intervensi negara yang tabu dilakukan sistem kapitalis serta bertentangan dengan prinsip pasar bebas yang mereka agungkan.

Hal ini menunjukkan bahwa bukanlah keseimbangan baru sebagai dampak mekanisme pasar yang terjadi, namun “tambal sulam” kebobrokan sistem ekonomi kapitalis untuk mengatasi berbagai kerusakan ekonomi yang diakibatkan oleh penerapan sistem ekonomi kapitalis.

Bagaimana pengaruh krisis financial global terhadap ekonomi Indonesia?

Seperti kita ketahui krisis finansial dan ekonomi yang terjadi selama ini selalu berdampak luas kepada negara-negara lain. Demikian juga krisis finansial global yang dipicu oleh krisis di AS. Terlebih lagi karena AS saat ini mendominasi sektor finansial dan keuangan dunia. Sehingga krisis yang terjadi di Amerika Serikat akan berdampak ke berbagai belahan dunia. Ditambah lagi Mata uang US dollar adalah mata uang yang paling banyak digunakan dalam transaksi keuangan dunia. Karenanya krisis finansial global tersebut pasti akan berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia.

Pemerintah sering mengklaim bahwa Indonesia tidak akan terkena dampak krisis global separah krisis tahun 1998 yang lalu karena fundamental ekonomi Indonesia yang kuat. Benarkah demikian?

Menurut saya, klaim pemerintah tersebut perlu kita sikapi hati-hati. Bukankah negara-negara Eropa, Jepang, Rusia serta negara-negara lain yang terpengaruh krisis global ini mempunyai fundamental ekonomi yang kuat, bahkan lebih kuat dari fundamental ekonomi Indonesia? Bahwa Indonesia belum terkena dampak krisis global separah krisis tahun 1998 memang benar. Namun tanda-tanda bahwa pengaruh tersebut dapat meluas dan membesar semakin nyata. Hal ini bisa dilihat dari gejolak di pasar saham dan gejolak depresiasi rupiah terhadap mata uang asing. Bahkan dampaknya ke sektor riil juga sudah terasa. Menurunnya produksi akibat naiknya biaya produksi khususnya yang berbahan baku impor, melambatnya kredit perbankan akibat naiknya suku bunga dan ketatnya likuiditas. Terjadinya PHK yang dilakukan banyak perusahaan adalah indikasi yang nyata. Kondisi ini diperparah ketika mata uang rupiah semakin terdepresiasi terhadapa mata uang dunia. Jika hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin dampak krisis tahun 1998 akan kembali berulang.

Menurut pengamatan Ust, apakah faktor-faktor penopang fundamental ekonomi kapitalis justru sebagai biang terjadinya krisis?

Krisis ekonomi global diakibatkan oleh perkembangan perekonomian negara-negara maju dan pasar keuangan global yang menyebabkan ketidakseimbangan global. Kalau kita amati, krisis global dipicu oleh beberapa sebab utama. Pertama, persoalan mata uang, dimana nilai mata uang suatu negara saat ini pasti terikat kepada uang negara lain (misalnya rupiah terhadap US dollar), tidak pada dirinya sendiri sedemikian sehingga nilainya tidak pernah stabil. Dan bila mata uang tertentu bergejolak, pasti akan mempengaruhi kestabilan mata uang tersebut. Kedua, Sumber ketidakstabilan ekonomi dunia adalah karena diterapkannya sistem bunga uang dalam perbankan. Ketiga, adanya transaksi spekulatif di pasar saham, pasar uang, dan pasar berjangka komoditas. Gejolak yang begitu besar di pasar saham, pasar uang dan pasar komoditas telah menyebabkan ekonomi menjadi tidak stabil dan penuh gejolak.

Selain dipicu oleh penyebab instabilitas ekonomi tersebut. Maka rusaknya distribusi kekayaan akibat rusaknya sistem kepemilikan dalam ekonomi kapitalis yang sangat mendewakan pertumbuhan dan mengabaikan distribusi kekayaan juga adalah faktor fundamental yang menjadi biang terjadinya krisis.

Bagaimana Islam membangun fundamental ekonomi yang kuat?

Untuk membangun fundamental ekonomi yang kuat, maka yang harus dilakukan adalah Pertama : menghilangkan faktor-faktor yang menjadi penyebab utama ketidakstabilan ekonomi dan kedua mengatur distribusi kekayaan dengan pengaturan sistem kepemilikan sesuai dengan hukum Islam. Untuk yang pertama, ketidakstabilan ekonomi dapat dicegah dengan (a) menghilangkan kegiatan rente (riba), (b) mencegah kegiatan spekulasi non-produktif di pasar uang, pasar modal dan bursa berjangka komoditas, (c) mengembalikan fungsi uang kepada fungsi aslinya, yakni sebagai standar nilai, alat tukar dan penyimpan nilai (store of value) serta tidak boleh dijadikan sebagai komoditi yang diperdagangkan. Dan ini dilakukan dengan menjadikan emas dan perak sebagai standar mata uang.

Untuk yang kedua, Islam mengatur sistem kepemilikan agar distribusi kekayaan dapat berjalan dengan baik. Untuk itu Islam menetapkan pembagian kepemilikan berupa kepemikian individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Khusus untuk kepemilikan umum Islam menetapkan harus dikelola oleh negara dan tidak boleh diserhakan kepada pihak swasta (privatisasi). Hasilnya kemudian didistribusikan kepada seluruh masyarakat dengan harga murah (gratis). Hal ini karena rakyatlah sejatinya pemilik kepemilikan umum tersebut.

Bisa dijelaskan tentang prinsip-prinsip penting keuangan syariah dan kekuatannya?

Untuk memberikan gambaran bagaimana prinsip-prinsip penting keuangan syariah, maka ada beberapa ketentuan pokok yang harus ada dalam sistem keuangan Islam. Diantaranya :

a. Penerapan Sistem Mata Uang Emas dan Perak

Yang dimaksud dengan sistem uang emas dan perak (gold and silver standard) adalah penggunaan emas dan perak sebagai standar satuan uang. Kedua logam tersebut dapat digunakan sebagai mata uang tanpa batasan bentuk. Sistem ini telah dikenal sejak zaman dahulu dan dipergunakan di dalam negara Islam. Uang yang beredar di masyarakat harus berupa emas dan perak, baik diwujudkan dalam bentuk fisik emas dan perak atau mempergunakan uang kertas dengan jaminan emas dan perak yang disimpan di bank sentral.

b. Larangan Riba dan Aktivitas Pembungaan Uang

Dengan adanya larangan riba dan pembungaan uang, maka uang akan beredar mengikuti perkembangan arus barang dan jasa. Uang tidak akan ketemu dengan uang dengan cara dibungakan.

c. Larangan menimbun uang walaupun telah dikeluarkan zakatnya

Uang yang ditimbun tidak akan berfungsi ekonomi, bahkan menghambat distribusi karena tidak terjadi perputaran harta. Islam mengharamkan menimbun harta (uang) walaupun telah dikeluarkan zakatnya. Bahkan mewajibkan pembelanjaan terhadap harta agar ia beredar di tengah-tengah masyarakat sehingga dapat diambil manfaatnya. Dengan tegas Al-Qur’an telah melarang usaha penimbunan harta, baik emas maupun perak, karena keduanya merupakan standar mata uang. Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berilah mereka kabar gembira dengan siksaan yang pedih ” (QS At-Taubah 34)

d. Larangan kegiatan spekulasi di Pasar Uang, Pasar Saham dan Pasar Berjangka Komoditi.

Transaksi derivatif yang penuh dengan spekulatif harus dilarang. Transaksi tersebut haruslah mengikuti ketentuan syariah tentang jual beli barang, surat berharga dan pertukaran mata uang.

e. Pemanfaatan harta Baitul Mal untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mengatur distribusi kekayaan.

Harta baitul mal yang dikelola negara sejatinya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ia digunakan untuk memacu pertumbuhan ekonomi dengan penyediaan sarana dan prasarana seperti jalan, pasar, pelabuhan dan lain-lain. Iapun dapat berfungsi sebagai alat mekanisme distribusi manakala distribusi kekayaan tidak berjalan dengan baik melalui pemberian harta kepada warga negara, pembagian zakat, infaq dan sedekah kepada yang berhak dan lain-lain.

Bagaimana mewujudkan keuangan syariah dalam konteks sekarang? Sejauh mana peran Khilafah?

Dalam konteks sekarang, secara individu setiap muslim haruslah berusaha menjalankan kegiatan ekonomi dan finansial sesuai dengan ketentuan syariah meskipun itu berat. Upaya pendirian berbagai lembaga keuangan syariah adalah upaya untuk mewujudkan hal tersebut. Namun langkah tersebut tidaklah mudah serta mengalami banyak kendala. Hal ini karena sistem keuangan dunia sedang dikuasai oleh sistem kapitalis global. Karenanya penerapan sistem keuangan syariah dalam lingkup yang lebih luas akan terkendala dengan sistem kapitalis yang penuh spekulatif dan ribawi. Untuk itu harus ada sistem Alternatif, yakni sistem khilafah yang dapat mengemban pelaksanaan seluruh prinsip-prinsip keuangan syariah dengan sempurna.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: