jump to navigation

KEBOBROKAN DAN KEHANCURAN LIBERALISME BARAT July 2, 2008

Posted by gusuwik in Afkar Politik.
trackback

Barat, oleh Barat sendiri dicitrakan sebagai negara penuh dengan peradaban dan makmur. Keberhasilan pencitraan inilah menjadikan sebagain kecil dari kaum muslimin terkagum-kagum bahkan memuja-mujanya. Seolah-olah, Barat lebih ’Islami’ dari Islam itu sendiri. Benarkah demikian? Benarkah liberalisme (sebagai paham dasar mereka) memberikan kejayaan? Bagaimana sebenarnya wajah negara-negara Barat? Benarkah liberalisme justru menjadi mesin penghancur bagi peradaban Barat sendiri? Apa sebenarnya ide-ide palsu liberalisme? Siapa sebenarnya target dibalik promosi ide liberalisme? Sehingga bagaimana kita membendungnya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, wartawan al waie (gus uwik) di bantu oleh Reza Aulia mewawancara secara eksklusif Dr. Imran Wahid (Mantan Representatif Media HT Inggris) dari London-Inggris langsung. Berikut petikannya:

Sebagaimana kita tahu kelahiran liberalisme adalah di Barat, dan Barat memberikan kesan bahwa mereka memiliki kejayaan karena liberalisme. Apakah hal ini benar?

Kejayaan apa? Yang ada justru sebaliknya. Keterpurukan. Nilai-nilai liberal Barat memiliki keterkaitan yang erat dengan mentalitas pemuasan sensual secara instan. Hal ini tercermin dalam suatu ungkapan Latin yang terkenal ‘Carpe Diem’, yang diterjemahkan kurang lebih ‘nikmatilah hari ini’. Falsafah ini mempengaruhi cara pandangan masyarakat Barat sehingga sedikit sekali ada kekhawatiran atas masa depan atau memikirkan konsekuensi atas tindakan seseorang. Ujungnya liberalisme menuntun orang untuk meyakini bahwa pemuasan sensual secara instan adalah memenuhi apa yang dibutuhkan dengan sebanyak mungkin. Ini adalah liberalisme yang telah menyebabkan negara-negara kapitalis berada dalam hutan belantara hewan-hewan liar yang menelan yang lemah dan manusia turun derajatnya seperti hewan sebagai akibat diumbarnya nafsu dan kebutuhan-kebutuhannya. Pada level internasional, ide-ide itulah yang secara langsung telah menyebabkan kematian dari jutaan orang di Irak dan Afghanistan.

Apa fakta yang menunjukkan bahwa liberalisme telah menjadi ‘mesin penghancur’ bagi Kebudayaan Barat?
Siapapun yang mengetahui benar situasi dari masyarakat Barat akan melihat kehancuran yang telah ditimbulkan oleh nilai-nilai liberalisme. Di Inggris, contohnya, nilai-nilai itu (liberalisme-red) telah menyebabkan kejahatan yang mewabah pada kaum muda yang seringkali melakukan pembunuhan hanya karena korbannya menatapnya dengan pandangan yang aneh. Di Inggris, setiap hari ada 175 perampokan dengan memakai pisau. Ada 2 orang wanita yang dibunuh setiap harinya sebagai akibat dari kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan, menurut survei yang ada telah menunjukkan bahwa 1 dari 5 kaum muda Inggris percaya bahwa kekerasan terhadap wanita adalah bisa diterima. Lebih mengerikannya lagi, ada 1 dari 20 wanita yang diperkosa. Di negeri itu juga ada lebih dari 10 orang dibunuh dan terluka dikarenakan senjata setiap harinya. Angka kriminalitas yang paling mutakhir menunjukkan bahwa tahun lalu ada lebih dari satu juta kasus pencurian mobil. Pencurian ini ternyata menyumbang hampir tiga perempat dari keseluruhan kasus kriminal yang dilakukan dengan kekerasan. Di tingkat yang lebih tinggi lagi, ada skandal keuangan yang melibatkan Enron dan Worldcom yang telah menggoyang ekonomi Barat.

Pendekatan masyarakat liberal atas banyak masalah-masalah ini adalah dikarenakan berlanjutnya kebebasan. Jadi mewabahnya kecanduan alkohol dipenuhi dengan dibukanya pub-pub dan kelab-kelab malam selama 24 jam. Problem perjudian dipenuhi dengan diajukannya proposal untuk membangun banyaknya “super casino”. Penyelesaian yang diajukan oleh Barat untuk menyelesaikan permasalahan yang telah menyebabkan adanya nilai-nilai liberal itu adalah suatu hal yang dangkal dan tidak efektif. Ujungnya bukan menyelesaikan masalah namun justru memperkeruh permasalahan yang ada.

Dalam kenyataanya, apakah ide-ide palsu dari liberalisme?

Liberalisme muncul menyusul adanya konflik diantara para ahli flsafat Eropa dan Gereja pada saat Renaissance. Hasil dari konflik ini adalah bahwa agama harus dipisahkan dari urusan kehidupan yakni apa yang disebut sekularisme. Oleh karena itu, para penyokong nilai-nilai ini menegaskan juga bahwa peran Islam dalam masyarakat haruslah dibatasi hanya pada urusan peribadatan personal sedangkan keputusan-keputusan politik mengenai cara mengurus masyarakat diberikan kepada manusia. Hal ini jelas bertentangan dengan akidah kaum Muslim, yang menganggap bahwa politik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Islam. Karena bagi Muslim, Islam adalah mencakup segala hal. Karena ini bertentangan dengan Akidah itulah, kaum Muslim harus menolak liberalisme.

Kenyataannya adalah bahwa nilai-nilai ini terungkap oleh tindakan-tindakan Barat itu sendiri khususnya setelah terjadinya Peristiwa 11 September. Kita telah melihat legitimasi atas pembantaian, tindakan penahan yang sangat semena-mena yang dilakukan tanpa sidang pengadilan – ini adalah suatu bukti yang terjadi di depan mata kita di Abu Ghraib, Bagram dan Guantanamo. Nilai-nilai liberal seperti kebebasan dan HAM mendapat pukulan yang amat keras, bukan dari kaum Muslim, melainkan oleh Amerika itu sendiri! Kemunafikan dan kontradiksi hal ini adalah begitu mengguncang sehingga banya non-muslim yang mulai mempertanyakan validitas ide-ide liberal itu sendiri dan kebijakan luar negeri kaum penjajah dari pemerintahan mereka atas Dunia Islam.

Siapakah target sebenarnya dari kebebasan ini?
Pemerintahan Barat mengetahui bahwa ideology Kapitalis, termasuk liberalisme, tidak mendapatkan perlawanan selain dari Dunia Islam. Karena mereka sadar bahwa ummat Islam memiliki sebuah ideology, yang mereka emban. Maka pemerintahan Barat menyadari bahwa hal ini bisa merupakan ancaman laten walaupun pada saat ini Umat Islam tidak memiliki sebuah negara dan seorang pemimpin yang menyatukan. Karena alasan itulah, pemerintahan Barat bekerja siang malam untuk menyebarkan ideology yang merusak itu kepada Dunia Islam melalui berbagai cara termasuk lewat media dan para penguasa kaki tangan mereka. Sebuah contoh yang baik atas hal ini adalah British Council yang memberikan kesan luar atas pengajaran Bahasa Inggris, tapi juga mempromosikan nilai-nilai Barat, termasuk ide-ide kebebasan pribadi, kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi. Sementara sebagian kaum Muslim tertarik atas ide-ide ini, karena mereka hidup dibawah pemerintahan yang brutal, ide-ide ini ditolak sepenuhnya oleh Islam.

Kendatipun kampanye ini dilakukan, kaum muslim yang tinggal di Barat mencela liberalisme sekuler ini. Sebuah polling yang dilakukan baru-baru ini oleh ICM atas sikap kaum muslim di Inggris menerbitkan hasil berikut: 81% memandang kebebasan berbicara sebagai sebuah cara untuk menghina Islam, 61% mendukung syariah, 88% ingin Islam diajarkan disekolah-sekolah, dan 60% tidak menganggap perlu untuk berintegrasi. Jika hal ini merupakan sebuah pandangan kaum Muslim yang hidup di bawah bendera pembawa liberalisme, maka seseorang dapat memperkirakan pendirian Dunia Islam atas nilai-nilai liberal sekuler. Cukup untuk mengatakan bahwa Barat telah gagal untuk meyakinkan massa kaum Musliim bahwa liberalisme Barat adalah lebih baik daripada Islam.

Dengan cara apa liberalisme ditegakkan oleh Barat?
Liberalisme ditegakkan ketika mereka menggambar kartun yang menghina Utusan Allah SAW, ketika mereka membuat film semacam “Fitna” yang menggambarkan Islam sebagai sebuah agama yang penuh kekerasan dan ketika mereka menerbitkan buku-buku semacam Ayat-Ayat Setan yang menghina para istri dari Nabi SAW. Di bawah bendera “liberalisme”, kaum Muslim harus bertoleransi atas semua bentuk propanda melawan Islam.

Namun, pada saat yang sama mereka mengungkap kemunafikan “liberalisme” ketika mereka menegakkan hukum untuk membungkam orang-orang yang menentang imperialisme Barat, dengan menuduh mereka “memuja terorisme”, dan menyerukan pelarangan partai-partai politik Islam seperti Hizbut Tahrir. Di Perancis, para wanita muslimah dilarang memakai jilbab dan Pengadilan HAM Eropa menguatkan larangan yang dilakukan oleh Turki untuk melarang jilbab di universitas-universitas Turki.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh Umat Muslim atas masalah ini?
Pertama, kaum muslim harus memahami bahwa motif dari kampanye semacam ini –untuk menyebarkan nilai-nilai liberal kepada Dunia Islam– adalah untuk membuat ideology kapitalis menjadi nilai-nilai yang universal dan melemahkan keterikatan Muslim atas Dien-nya. Jika mereka memahami motif-motif ini maka Umat Muslim akan bersatu menentang ide-ide semacam ini.

Kedua, selain kesadaran akan posisi Islam dalam kaitannya dengan nilai-nilai ini, kaum Muslim harus juga mengetahui atas realitas yang menakutkan dari nilai-nilai ini (liberalisme-red) yang telah membentuk masyarakat Barat menjadi ’bangsa hewan’, seperti keluarga yang berantakan, hubungan seksual dengan siapa saja, epidemi kecanduan alkohol dan obat-obatan, melalaikan anak-anak dan orang jompo dan tumbuhnya kriminalitas.

Ketiga, Umat Muslim harus mengungkap kemunafikan pemerintahan Barat ini dengan melemahkan nilai-nilai liberal mereka sendiri. Umat Islam harus mengkritik tajam atas inkonsistensi Barat. Kenapa pemerintah Barat melarang jilbab dan membungkam kaum Muslim di Barat yang menentang ketidakadilan, padahal ini adalah bagian dari pelaksanaan HAM? Umat Islam juga dapat menyoroti konsekuensi yang sesungguhnya yang telah menciptakan masyarakat seperti ini.

Keempat, Umat Muslim harus bekerja bagi tegaknya Khilafah karena inilah alternatif satu-satunya atas kegelapan yang diderita oleh masyarakat dibawah liberalisme. Dibawah Khilafah lah, hak-hak manusia ditentukan oleh Sang Pencipta manusia dimana pasti terpenuhi secara adil, bukan oleh manusia itu sendiri. Tidak ada seorangpun yang dipaksa untuk menjadi Muslim, kaum wanita akan diberikan hak-hak mereka yang sesungguhnya, penduduk bisa meminta tanggung jawab penguasa dan tidak ada ruang bagi para diktator brutal yang mengotori Dunia Islam pada hari ini.

Akhirnya, adalah perlu untuk mengingat kata-kata seorang ahli politik Amerika,Samuel Huntington, yang mengatakan “Barat menguasai dunia bukan karena Superioritas ide-ide atau nilai-nilainya atau agamanya melainkan karena superioritasnya dalam menerapkan kekerasan yang terorganisir. Orang Barat seringkali lupa akan fakta ini, tapi orang Non-Barat tidak pernah melupakannya.”

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: