jump to navigation

‘ISLAM MODERAT’ Sesuai Selera Barat March 23, 2008

Posted by gusuwik in Afkar Politik.
trackback

Baru-baru ini, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan bertemu dengan Presiden SBY. Agenda yang dibicarakan oleh keduanya adalah bagaimana memperkuat ‘Islam Jalan Tengah’ di Indonesia (Republika, 29/2/2008).

‘Islam Jalan Tengah’ adalah istilah lain dari ‘Islam Moderat’. ‘Islam Moderat’ tentu merupakan istilah baru, yang tidak pernah dikenal dalam khazanah keilmuan Islam klasik (baik dalam terminologi pemikiran maupun fikih Islam) ataupun dalam konteks siyâsah Islam. Para pemikir Islam maupun para ulama fikih selama berabad-abad tidak pernah memunculkan kedua istilah ini. Demikian pula para ulama siyâsah Islam. Kedua istilah ini tidak lain dimunculkan oleh para pemikir dan politisi Barat ketika mereka menilai kecenderungan kaum Muslim dengan melakukan kategorisasi: ‘Islam Moderat’ versus ‘Islam Radikal’. ‘Islam Radikal’ juga sering disebut dengan istilah ‘Islam Garis Keras’ atau ‘Islam Ekstrem’ yang dikesankan ‘angker’, yang juga sering diidentikan dengan kaum fundamentalis bahkan teroris.

Pertanyaannya, benarkah Islam itu dibagi dua: moderat dan radikal (ekstrem)? Ataukah Islam itu satu; tidak mengenal moderat ataupun radikal (ekstrem)? Jika tidak ada ‘Islam Moderat’ maupun ‘Islam Radikal’, lalu apa motif Barat memunculkan kedua istilah tersebut di tengah-tengah kaum Muslim? Inilah yang coba dikupas dalam tulisan ini.

 

Sesuai Selera Barat

Dua tahun lalu, tepatnya Rabu (29/3/2006), PM Inggris saat itu, Tony Blair, berkunjung ke Indonesia. Sekretaris Negara saat itu, Yusril Ihza Mahendra, mengatakan bahwa PM Blair menunjukkan minatnya dalam diskusi tentang kemajuan Islam di Indonesia. Selain bertemu dengan Presiden SBY, Blair juga bertemu dan berdialog dengan para pemuka agama Islam di Indonesia. Yusril mengatakan, dialog difokuskan pada kemajuan apa yang disebut sebagai ‘Islam Moderat’ dan cara-cara untuk menghadapi pemahaman yang salah tentang agama Islam. (Eramuslim.com, 30/3/2006).

Kita tahu, Blair sebelumnya telah mempertajam ‘perang melawan terorisme’ (war on terrorism) ala Amerika menjadi ‘perang melawan ideologi setan’ (war on evil ideology). Sepekan setelah peledakan di London (16/7/2005), Blair mengajak dunia untuk memerangi ekstremisme Islam yang dihasilkan oleh sebuah ideologi yang disebutnya—juga pernah disebut oleh Presiden AS George Bush—sebagai ‘ideologi setan’. Walhasil, baik Blair maupun Bush telah memvonis Islam dengan ‘ideologi setan’. Bukan suatu kebetulan jika pernyataan-pernyataan Bush maupun Blair saat itu diamini dan didukung oleh Gerhard Schroeder (Kanselir Jerman), Berlusconi (PM Italia) serta para pemimpin, politisi, akademisi dan banyak masyarakat Barat.

Dalam pidatonya pada Konferensi Kebijakan Nasional Partai Buruh Inggris, Blair menjelaskan apa yang dimaksudkannya dengan ‘ideologi setan’ itu. Ciri ‘ideologi setan’ tersebut adalah: (1) menolak legitimasi Israel; (2) memiliki pemikiran bahwa syariah adalah dasar hukum Islam; (3) kaum Muslim harus menjadi satu kesatuan dalam naungan Khalifah; (4) tidak mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat. Siapapun yang memiliki pemikiran tersebut digolongkannya sebagai ekstremis yang harus diperangi. Padahal keempat ciri yang disebut Blair mencerminkan ajaran Islam itu sendiri. Pasalnya, Islam jelas menolak penjajahan Israel atas Palestina sebagai tanah milik kaum Muslim; Islam telah menjadikan syariah sebagai dasar hukum; Islam juga telah mewajibkan kaum Muslim bersatu dalam naungan Khilafah; Islam pun mengharamkan pengadopsian nilai-nilai liberal (hadhârah) Barat.

Anehnya, pada sisi lain, Blair mempromosikan wajah Islam yang disebutnya ‘moderat’. Mereka yang menyetujui Israel, menolak syariah, menolak kesatuan kaum Muslim dalam Kekhilafahan, dan mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat disebut Blair memiliki prasyarat menjadi moderat. Padahal ciri-ciri terakhir yang disebut oleh Blair ini tidak satu pun bersumber dari ajaran Islam, tetapi murni bersumber sentimen ideologi Barat sendiri, yakni Kapitalisme sekular yang notabene bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Pertanyaannya, ketika Barat telah menyebut Islam sebagai ‘ideologi setan’, lalu apa perlunya mereka memunculkan istilah ‘Islam Moderat’? Ini berarti, apa yang disebut dengan ‘Islam Moderat’ adalah Islam yang sesuai dengan nilai-nilai Barat. Frasa ‘Islam yang sesuai dengan nilai-nilai Barat’ ini juga sebetulnya rancu. Sebab, mana ada ajaran Islam yang sesuai dengan nilai-nilai (baca: hadhârah, peradaban), atau sebaliknya? Yang lebih tepat barangkali, ‘Islam Moderat’ adalah Islam yang sesuai dengan selera Barat. Islam jenis ini sesungguhnya bukanlah Islam, tetapi nilai-nilai Barat itu sendiri yang dibungkus dengan label Islam.

 

Motif Politik

Memperkuat ‘Islam Moderat’ atau mendorong kaum Muslim agar bersikap moderat tanpa mempersoalkan sikap radikal dan ekstremisme negara-negara Barat tentu aneh. Mengapa umat Islam dituntut menjadi moderat, sementara negara-negara Barat mempraktikkan yang sebaliknya? Barat sebagai pengusung utama gagasan moderasi sering menuduh kaum radikal/ekstremis dan kelompok fundamentalis memiliki karakter menganggap dirinya paling benar. Padahal Baratlah yang paling sering menganggap diri mereka paling benar dengan nilai-nilai liberalnya—seperti demokrasi, HAM dan pluralisme. Negara-negara di dunia pun mereka paksa untuk memilih dua pilihan: ikut kami (berikut sistem dan nilai-nilai Barat) atau ikut teroris.

Kaum radikal/ekstremis juga mereka cirikan selalu menggunakan kekerasan untuk meraih kepentingan mereka. Lalu bagaimana dengan tindakan AS yang membumihanguskan Irak sekaligus membunuhi ratusan ribu penduduknya dengan alasan menyebarkan demokrasi, bahkan dengan berbohong tentang senjata pemusnah massal? Bagaimana pula sikap Barat dan AS yang selalu mendukung kekejaman Israel atas kaum Muslim Palestina serta menopang para rezim diktator di Dunia Islam khususnya, seperti Musharraf, Husni Mubarak, Islam Karimov dll?

Melihat kontradiksi ini, kita dengan mudah menyimpulkan bahwa setiap gagasan dan wacana untuk memperkuat ‘Islam Jalan Tengah’ atau ‘Islam Moderat’ ditengarai memiliki muatan-muatan politis, yakni untuk mendukung kepentingan Barat dalam rangka terus melemahkan Islam dan kaum Muslim agar tidak menjadi tantangan bagi Barat yang memiliki kepentingan atas Dunia Islam, yakni penjajahan.

Beberapa rekomendasi yang dikeluarkan oleh peneliti Barat mengisyarakatkan hal ini. Paul Reynolad (BBC 29/03/04), dalam artikelnya yang berjudul, Preventing a ‘clash of civilisations’, menulis bahwa AS menggunakan Islam tradisional untuk membendung Islam ekstrem. Strategi yang digunakan Barat untuk menolak ‘Islam Ekstrem’ adalah dengan mendukung ‘Islam Moderat’. Memperkuat ‘Islam Moderat’ ini pula yang direkomendasikan kepada Pemerintah AS oleh the Rand Corporation dan Nixon Center.

Dengan demikian, wajar jika ada yang mengaitkan upaya untuk ‘memoderatkan’ Islam sebagai strategi Barat untuk menekan perlawanan kaum Muslim terhadap penjajahan Barat di negeri-negeri Islam, terutama kalau itu ditujukan untuk menghapuskan jihad untuk melawan penjajah Barat yang membunuhi kaum Muslim serta menghalangi perjuangan umat Islam untuk menegakkan syariah dan Khilafah. Semua ini pada akhirnya dimaksudkan demi melanggengkan penjajahan Barat atas Dunia Islam. Inilah motif politik di balik gagasan dan wacana memperkuat ‘Islam Moderat’.

 

Khayalan Barat

Dalam tulisannya di Majalah Al-Wa‘ie, Ustadz Hafidz Abdurrahman, MA, menulis sebagai berikut:

Islam adalah agama (ad-dîn) yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, diri dan sesamanya. Dengan demikian, Islam bukan hanya mengatur masalah akidah, ibadah dan akhlak; tetapi juga mengatur masalah ekonomi, pemerintahan, sosial, pendidikan, peradilan dan sanksi hukum serta politik luar negeri. Inilah yang dimaksud dengan Islam kâffah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah dalam al-Quran (QS al-Baqarah [2]: 208).

Karena itu, Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna sehingga Islam tidak lagi membutuhkan agama atau ajaran lain (QS al-Maidah [5]: 3). Bahkan jika ada yang merasa perlu untuk mengambil dari agama atau ajaran lain, dengan tegas Allah menolaknya, dan apa yang diambilnya itu tidak akan pernah diterima (QS Ali Imran [3]: 85).

Karena itu pula, Islam—sebagai agama dan ajaran—harus dibedakan dengan pemeluknya. Sebagai agama dan ajaran, Islam tidak pernah berubah. Islam sudah lengkap dan sempurna. Hanya saja, pemahaman pemeluknya terhadap Islam itulah yang berbeda-beda; ada yang lengkap dan tidak; ada yang memahami Islam dari satu aspek, sementara aspek yang lain ditinggalkan. Misalnya, Islam hanya dipahami dengan tasâmuh (toleransi)-nya saja, sementara ajaran Islam yang lain, yang justru melarang tasâmuh tidak dipakai. Dari sini, seolah-olah Islam hanya mengajarkan tasâmuh sehingga Islam terkesan permissif. Padahal kenyataannya ada yang boleh di-tasâmuh dan ada yang tidak. Dengan demikian, tetap harus dipilah antara Islam dan orangnya.

Adapun kategorisasi Islam—Moderat, Liberal, Ekstrem, Radikal, Fundamentalis, dan sebagainya (meminjam istilah Jalaluddin Rakhmat)—adalah mapping (pemetaan) yang berfungsi untuk memudahkan peneliti dalam memahami Islam. Memang, kategorisasi seperti ini merupakan bagian dari pemetaan yang dilakukan untuk memilah-milah Islam berdasarkan kecenderungan orangnya. Dari aspek ini saja sudah keliru. Sebab, Islam dinilai dengan menilai orangnya, bukan Islamnya itu sendiri. Tentu ini bukan dari orang Islam. Karena orang Islam tidak mempunyai kepentingan untuk melakukan itu. Pemilahan atau pemetaan itu sengaja dilakukan oleh orang yang berada di luar Islam dalam rangka mendekati orang Islam untuk kepentingan mereka. Lalu apa kepentingan mereka? Jelas, yaitu: devide et impera; belah bambu; satu diinjak, yang lain dirangkul. Tujuan akhirnya, agar orang Islam bisa dijinakkan dan dikuasai oleh penjajah. Inilah strategi yang juga akui sendiri oleh George Tenet, mantan Direktur CIA; bahkan merupakan rekomendasi terakhir Donald Rumsfeld sebelum lengser. Dia menegaskan, bahwa umat Islam tidak bisa dikalahkan oleh orang luar, kecuali oleh orang Islam sendiri.

Jika demikian, benarkah ‘Islam Moderat’ itu ada? Tentu tidak ada. ‘Islam Moderat’—dengan seluruh pemaknaan bahasa, istilah maupun politiknya—sesungguhnya hanya ada dalam khayalan orang-orang kafir Barat, atau orang-orang Muslim yang menjadi pembebek mereka.

Wamâ tawfîqi illâ billâh.

[Arief B. Iskandar – Lajnah Siyasah HTI]

Advertisements

Comments»

1. abu Ibrahim - April 24, 2008

Yah, sepertinya memang “Ismod” (moderat) sudah menjadi tren yang didukung sistim saat yah… Mereka seperti lupa pada dasar ajaran Islam yang sesungguhnya.

Sebagai tambahan ada situs MODERAT , saya rasa situs ini milik intel Indo dan Australi yang kerja sama untuk mengawasi kegiatan gerakan Islam fundamental… Coba lihat di :

http://moderat.wordpress.com/2008/01/30/uncovering-hizbut-tahrir-australia/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: