jump to navigation

AS Incar Papua December 7, 2007

Posted by gusuwik in Afkar Politik.
trackback

Anggota Kongres AS, Eny Faleomavaega kembali melakukan kunjungan ke Indonesia. Secara khusus Eny melakukan kunjungan ke sejumlah wilayah Papua seperti Biak dan Manokwari. Alasan yang disampaikan oleh Eny adalah melihat langsung kondisi Papua setelah enam tahun otonomi khusus (otsus). Diapun menegaskan bahwa tidak membahas agenda Papua Merdeka. (okezone, 28/11/07)

Kunjungan dan pernyataan Eny Faleomavaega patut dikritisi. Benarkah demikian adanya? Ataukah ada agenda tersembunyi? Kenapa Eny ‘begitu peduli’ dengan pelaksanaan otonomi khusus di Papua? Bukankah ini adalah ‘urusan dalam negeri’ Indonesia? Ada factor strategis apa sehingga menggerakkan Eny untuk ‘terjun langsung’ ke Papua untuk memastikan bahwa otonomi khusus berjalan dengan baik? Kenapa kunjungannya berdekatan dengan tanggal 1 Desember, yang oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) dijadikan sebagai hari kemerdekaan Papua? Pertanyaan-pertanyaan diatas paling tidak menjadi ‘pisau bedah’ kenapa Eny begitu getol datang ke Indonesia, khususnya ke Papua.

Jika kita telaah rangkaian kunjungan dan aktivitas dia selama ini, maka kedatangan Eny Faleomavaega ke Papua sebenarnya ada 2 agenda penting: pertama: semakin mengokohkan opininya bahwa memang Papua layak untuk merdeka. Hal ini sebenarnya secara  tersirat nampak dalam statemen dia tatkala mengomentari pelaksanaan otonomi khusus yang ada di Papua. Dia meminta agar masyarakat Papua ‘bersabar’ dalam masa pelaksanaan otsus tersebut. Atau dengan kata lain, Eny sebenarnya ingin menjelaskan bahwa masyarakat Papua menerima dulu opsi otonomi khusus sambil kemudian menyusun upaya untuk merdeka. Kata-kata ‘bersabar’ sebenarnya menunjukkan bahwa ‘masih ada’ kesempatan untuk kembali memperjuangkan kemerdekaan Papua. Apalagi dari sejak awalnya Eny adalah tokoh konggres AS yang dikenal sangat keras menyuarakan kemerdekaan di Papua. Ini juga yang menjadi ‘link’ kenapa Eny berkunjung ke Papua pada saat sebelum OPM biasa memperingati 1 Desember sebagai hari kemerdekaan Papua. Eny sebenarnya ingin ‘menegaskan’ bahwa strategi AS yang menggunakan ‘potensi lokal’ untuk membuat keonaran yang selama ini ‘ampuh’ sebagai jalan untuk menjaga kepentingan AS masih bisa dimainkan. Dengan adanya ‘isu-isu’ ini maka kekuatan-kekuatan militer akan dengan mudah ‘dipasok’ ke Papua atas nama menjaga ‘integritas’. Sehingga kita tidak heran jika kemudian berdatangan CIA,FBI dan pasukan Khusus Australia datang ke Papua. Untuk apalagi kalau bukan untuk memastikan bahwa kepentingan mereka aman dan terkendali.

Kedua: Eny Faleomavaega ingin memastikan pelaksanaan otonomi khusus di Propinsi Papua berjalan dengan baik. Kita tahu bahwa pelaksanaan otonomi khusus saat ini ‘tidak berjalan’ dengan mulus. Justru dengan pelaksanaan otonomi khusus yang berbasis otonomi daerah inilah yang sering menimbulkan kekacauan dan perselisihan antara warga/suku pribumi. Tak jarang berujung pada ‘perang antar suku’ yang tak jarang menimbulkan korban jiwa. Belum lagi tatkala pemekaran Irian menjadi dua, Irian dan Irian Barat, pun berujung pada perang antar warga. Kenapa warga setempat ‘perang’? Ujungnya adalah perebutan ‘aset atau kue ekonomi’.

Selain itu, dengan adanya otonomi khusus, AS diharapkan bisa langsung ‘mengontrol’ kondisi di Papua bagi keberlangsungan kepentingan AS disana. Kenapa demikian? Tidak bisa dipungkiri, bahwa dengan adanya otonomi khusus ini yang diperkuat dengan otonomi daerah, daerah setempat bisa langsung berhubungan dengan Luar Negeri (asing) dalam menjalin hubungan. Baik ekonomi/bisnis maupun kerjasama yang lain. Ini lah yang sebenarnya diharapkan oleh AS. Walau tidak bisa secara langsung ‘menganeksasi’ (dan ini adalah hal yang cukup sulit dilakukan) Papua, namun dengan pelaksanaan otsus ini, AS bisa dengan mudah juga ‘mengontrol’ Papua untuk memperlancar kepentingannya. Inilah jawaban, mengapa Eny Faleomavaega begitu getol memantau keberhasilan pelaksanaan otsus di Papua.

Kepentingan AS di Papua tidak lain adalah perusahaan multi nasional AS, yakni Freeport Mc Moran yang mengeruk kekayaan bumi Papua yang kemudian mendatangkan keuntungan yang luar biasa banyaknya bagi AS. Tentu perlu ‘kondisi yang nyaman’ tanpa gangguan dalam proses produksinya. Sehingga dengan pelaksanaan Otsus diharapkan pemda setempat mempunyai tanggung jawab lebih besar dalam mengambil keputusan terkait dengan perusahaan multi nasional tersebut. Jika ini terjadi maka, AS akan lebih mudah ‘mengontrol kondisi’ daripada dikelola oleh pusat. Selain langsung pada pengambil kebijakan juga tidak terlalu melibatkan banyak orang.

Ini juga menjadi ‘penjabaran’ statemen Eny yang meminta agar masyarakat Papua ‘bersabar’ dalam masa pelaksanaan otsus tersebut.

 

Mental Inlander

Sungguh, ditengah penolakan yang dilakukan oleh banyak kalangan, ternyata ada dari sebagian anggota dewan justru menunjukkan sikap yang berbada. Anggota dewan tersebut justru ingin menunjukkan ‘kemesraannya’ dengan Eny Faleomavaega. Dia menyatakan “Tau nggak, dia (pemerintah) bilang apa? Eny hanya boleh satu hari di Papua. Nah kalau Eny sampai berubah datang, gimana coba? Mau melawan Amerika?” tegasnya. Statement ‘Mau melawan Amerika?’ menunjukkan sikap terjajah. Menganggap bahwa AS adalah ‘segala-galanya.’ AS adalah kekuatan yang bisa menentukan hitam putihnya negeri ini. Tidak mungkin ‘melawan’ AS. (Okezone, 29/11/07)

Justru dengan sikap inilah, Indonesia semakin berada ‘diketiak’ AS. Tanpa bisa melakukan perlawanan sedikitpun dengan AS. Jangankan untuk menentangnya, menegurpun seoalh-olah tanpa daya sedikitpun. Walhasil, Indonesia menjadi kepenjangan tangan kepentingan AS.

Kondisi ini menunjukkan bahwa di negeri ini memang banyak komprador yang dengan setia meladeni tuannya. Entah mereka sadar atau tidak bahwa mereka sudah menjadi alat kepentingan AS. Sungguh, sikap mengemis dan menjadikan seolah-olah AS segala-galanya adalah hal yang merendahkan ‘martabat negeri ini’. Ini tidak boleh terjadi.



Advertisements

Comments»

1. That’s It, Obama! « - November 5, 2008

[…] Perusahaan-perusahaan besar AS saya pikir tetap akan bercokol di Indonesia. Kebijakan politik negara itu untuk Indonesia saya kira juga tidak akan banyak berubah. Papua, misalnya, masih akan menjadi mainan para politisi, intelijen dan pebisnis AS, dan Obama tak bisa banyak berbuat. (Soal kepentingan AS di Papua, misalnya, bisa dibaca di blog ini). […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: