Penguasa Mengabdi pada Pemilik Modal March 27, 2008
Posted by gusuwik in Komentar Politik.trackback
Ketua Komisi Rekomendasi Silaknas ICMI, Azlaini Agus: “Pilkada telah mengakibatkan draining energy dan eksploitasi financial.” Biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan mengantar seorang calon ke kursi eksekutif rata-rata tak kurang dari 500 miliar. (Rep, 14/1)
Komentar:
Jadi, yang akan terjadi adalah yang didukung oleh uang. Padahal, uang dimiliki pemilik modal. Karenanya, penguasa akan mengabdi pada pemilik modal. Itulah kapitalisme.

Tulisan akh Rushdan cukup menarik menerangkan politik uang … :
http://hamiludd2kwah.multiply.com/journal/item/4/Politik_duit_di_Amerika
Demokrasi dan politik uang di Amerika.
Musim pemilu AS telah dimulai dimana rakyatnya mulai memilih Presiden
baru. Beberapa
bulan ke depan, Amerika dan belahan dunia lainnya akan menyaksikan siapa
pengganti Presiden GW. Bush, apakah itu John McCain dari Partai Republik
atau Hillary Clinton atau Barack Obama, dua capres dari Partai Demokrat.
Sistem politik Amerika sering dibanggakan pada dunia sebagai contoh ‘Impian
Amerika’, dimana rakyat biasa bisa memilih dengan penuh kebebasan untuk
memilih pemimpin mereka, secara tertib dan damai. Dengan bangga, mereka
berkata bahwa siapapun bisa mencalonkan diri sebagai kandidat Presiden.
Namun, kenyataan menunjukkan bahwa impian politik Amerika tidak lebih dari
sekedar mitos; ini terbukti dari jumlah uang yang luarbiasa besar
digelontorkan oleh beberapa kandidat elit saja; milyaran dollar telah
terbayar untuk biaya kampanye. Faktanya adalah bahwa di Amerika dan dimana
pun, Demokrasi tidak pernah menepati janjinya. Kuatnya pengaruh uang adalah
kecacatan Demokrasi, suatu sistem pemerintahan yang memihak golongan kaya
dan istemewa saja.
Di pemilu 2004, capres saat itu GW Bush menerima donasi 292 juta dollar,
sedangkan lawannya John Kerry dari partai democrat menerima 253,9 juta
dollar. Kandidat independen, Ralph Nader hanya menerima 4,5 juta dolar saja.
Total biaya pemilihan Presiden dan kursi perwakilan rakyat di Konggres
berkisar sebesar 3,9 milyar dollar.
Untuk tahun 2008 ini, Barack Obama telah mendapatkan 193 juta dolar, Hillary
Clinton 169 juta dolar, sedangkan John McCain sekitar 64 juta dolar.
Sebenarnya persyaratan untuk menjadi Capres Amerika cukup sederhana:
kelahiran warga negara Amerika, tinggal di amerika selama 14 tahun, dan
berumur minimal 35 tahun. Akan tetapi dengan jumlah biaya kampanye yang
sangat besar seperti biaya iklan TV, radio dan kebutuhan pemasaran kampanye
lainnya, sangat kecil kemungkinannya bagi anggota rakyat biasa untuk bisa
menjadi capres yang bisa diperhitungkan. Uang menjadi penghadang alami.
Kenyataan semacam inilah yang menyebabkan hilangnya kepercayaan dari para
pemilih Amerika terhadap sistem politiknya sendiri. Partisipasi pemilih di
pemilu Amerika menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir, dan
merupakan salah satu tingkat partisipasi yang rendah di antara negara-negara
maju lainnya. Maka secara praktis, hanya kelompok minoritas dari seluruh
para pemilih yang memenuhi syarat sajalah yang akhirnya memilih calon wakil
rakyat dan presiden.
Rakyat biasa pun akhirnya mulai mempertanyakan kenapa pilihan mereka pada
pemilu sebenarnya tidak memiliki pengaruh yang berarti dalam sistem politik
amerika. Dugaan rakyat terhadap tidak berartinya pilihan mereka pada pemilu
semakin menguat ketika kebijakan politik partai Demokrat dan partai Republik
semakin sulit dibedakan. Keduanya menerapkan politik luarnegeri yang haus
perang dan memiliki agenda pro bisnis dengan mengorbankan pendanaan
pelayanan sosial dalam negeri. Alasan kenapa sistem Demokrasi Amerika bisa
melahirkan situasi
seperti ini adalah kuatnya pengaruh uang dan kelompok-kelompok kunci yang
memiliki kepentingant tertentu. Korporasi atau perusahaan besar Amerika dan
kelompok-kelompok tidak melihat diri mereka sebagai dermawan yang murah
hati.Akan tetapi mereka memberikan uang kepada para calon politisi dengan
harapan ketika para politisi terpilih atau memenangkan kursi kekuasaan,
lahirlah kebijakan-kebijakan yang menguntungkan mereka sendiri.
Inilah cacat yang mendasar dari sistem Demokrasi, dimana ia
menghasilkan hukum dan kebijakan buatan manusia yang akan menguntungkan
pihak-pihak yang bisa memenangkan pengaruh, dengan tumbal rakyat biasa.
Presiden Amerika sendiri, Eisenhower, pernah memperingatkan adanya kekuatan
korup yang bisa menyetir kebijakan politik Amerika dalam pidato
perpisahannya di bulan Januari 1961 sebagai berikut:
*”…three and a half million men and women are directly engaged in the
defence establishment. **We annually spend on military security more than
the net income of all United States corporations. This conjunction of an
immense military establishment and a large arms industry is new in the
American experience. The total influence — economic, political, even
spiritual — is felt in every city, every State house, every office of the
Federal government.
We recognize the imperative need for this development. Yet we must not fail
to comprehend its grave implications. Our toil, resources and livelihood are
all involved; so is the very structure of our society. In the councils of
government, we must guard against the acquisition of unwarranted influence,
whether sought or unsought, by the military/industrial complex. The
potential for the disastrous rise of misplaced power exists and will
persist.”
*
(“… tiga setengah juta pria dan wanita terlibat langsung dalam industri
pertahanan. Kita mengeluarkan dana untuk kepentingan militer yang nilainya
melampaui gabungan dari seluruh keuntungan bersih perusahaan-perusahaan di
Amerika. Bagi Amerika sendiri, adanya superstruktur militer yang didukung
oleh industri persenjataan adalah suatu hal baru. Dan pengaruhnya sungguh
luar biasa baik dari segi ekonomi, politik, dan spiritual, dan juga
dirasakan di setiap kota, pemerintah negara bagian, dan setiap departemen
Federal.
Di satu sisi, kami sadar bahwa superstruktur ini penting untuk dimiliki.
Tapi kita juga jangan lengah akan dampak atau implikasi yang berbahaya.
Kerja keras kita, sumber daya kita, dan kehidupan kita, serta struktur
masyarakat kita, kesemuanya saling terkait dan terlibat. Maka dalam sistem
pemerintahan kita tetap harus ada kewaspadaan dari setiap pengaruh, baik
secara sengaja atau tidak, dari kompleks militer/industri. Potensi akan
lahirnya suatu kekuasaan yang tidak pada tempatnya akan tetap ada. “)
Saat ini pendanaan pertahanan Amerika sebesar 1 milyar dolar per tahun. Ini
besarnya hampir sama dengan total APBN yang disetujui Konggres AS di bulan
Maret 2008 sebesar 3 milyar dolar. Sedangkan pendanaan sosial dan kesehatan,
secara kontras, semakin menurun di tahun-tahun terakhir. Meskipun, Amerika
semakin banyak menghabiskan kekayaannya untuk kepentingan militer dan perang
penjajahan di luar negerinya, pengaruh dari kontraktor persenjataan justru
tidak menyurut. Pembagian proyek-proyek militer di negara-negara bagian yang
diwakili para senator-senatornya yang berpengaruh di Konggres menunjukkan
politik “Pork Barrel”, yaitu politik yang menunjukkan akrabnya pengaruh uang
dengan politik. Ini tidak hanya terjadi di sektor pertahanan, tapi juga
melibatkan semua korporasi Amerika, dimana mereka saling berlomba untuk
memenangkan pengaruh pada para politisi. Hillary Clinton , baru-baru ini
justru membuat pembelaan yang mengesankan terhadap para kelompok lobi yang
memiliki kepentingan tertentu, seperti bank-bank investasi dan
lembaga-lembaga keuangan yang merupakan donatur tradisional yang menyumbang
dana bagi para calon Presiden dari partai demokrat maupun partai republik.
Kerentanan Demokrasi terhadap pengaruh uang dan korupsi tidak hanya terjadi
di Amerika saja. Di manapun Demokrasi berada sebagai sistem pemerintahan, di
situ tampaklah bagaimana golongan elit yang akhirnya mampu mengontrol
pengaruh. Penelitian yang dilakukan di Amerika sendiri juga menunjukkan
bahwa perusahaan yang menyumbang kepada para politisi selalu mendapatkan
keuntungan yang besar dibanding perusahaan lainnya. Maka tidak heran kalau
lapangan pekerjaan di Amerika di pindah ke luar negeri seperti negeri Dunia
Ketiga (outsource) secara agresif, sehingga bisa menambah keuntungan mereka.
Demokrasi secara realita adalah cara canggih untuk mengontrol pengaruh dan
dipakai oleh korporasi Amerika dan elit politiknya untuk secara berhati-hati
memilih para pemimpinnya. Ketika rakyat Amerika memulai tradisinya untuk
terlibat dalam pemilu, hasilnya akan selalu bisa ditebak. Siapapun yang
menang, terlepas dari janji2 apapun yang pernah ditawarkan pada rakyat, akan
melahirkan kebijakan-kebijakan ‘balas budi’ kepada para donaturnya di masa
kampanye. Itulah sebabnya, pemenang sejati dalam pemilu adalah korporasi
Amerika, kelompok lobi, dan grup yang memiliki kepentingan tertentu, yang
telah menyokong dana kampanye para politisi. Akhirnya, golongan kaya sekali
lagi mendapatkan keuntungan dengan mengorbankan nasib jutaan rakyat biasa.
(Rusydan; Khilafah.com / 25 Maret 2008)
*Negara Korporasi*
- Dick Cheney (wakil presiden) memimpin perusahaan Haliburton Energi
hingga tahun 2000. Berkat hubungan politisnya, dia berhasil memperoleh
keuntungan mencapai sekira 45 juta dolar AS
- Condoleeza Rice (menlu AS ): CEO perusahaan Chevron Texas.
- Donald Rumsfeld (mantan Menhan) :pernah menjabat wakil pemimpin
perusahaan Western Oil. Dia juga merupakan partner Bush di perusahaan Enron
Energy. Perusahaan ini menjadi perusahaan pertama Amerika dalam rangkaian
ambruknya perusahaan-perusahaan Amerika setelah kejahatan keuangan yang
menenggelamkannya pada akhir tahun 2001.
- Pusat Keamanan Publik: sekitar 100 orang pejabat di pemerintahan
Bush yang pertama, mereka menanamkan investasinya yang mencapai 144,6 juta
dolar AS di sektor migas.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung.”
(TQS: Surat ALI IMRAN, 104)
1 CommentChronological :
Inilah sistim yang diidolakan para politisi saat ini, tidak terkecuali partai Islam di Indonesia dan di dunia Islam.
Apakah mereka tidak yakin atau belum tahu kalau Islam mempunyai metodelogi (thoriqoh) didalam berpolitik ?
Semoga kata yang kedualah yang mereka sebenarnya pahami. Mereka tidak tahu… Lalu jika tidak tahu, kenapa masih tidak bertanya pada yang tahu, sebagai firmannya FAS’ALUU AHLIDZDZIKRII INKUNTUM LAA TA’LAMUUN… ??!
Mungkin malu karena bukan dari kelompoknya…. yah semoga malu yang seperti itu bisa dibuang, karena malu yang itu bukan malu yang sebagian dari Iman, tapi malu yang dari setan, sebagaimana paman Nabi ketika ahir hidupnya…. “seadainya aku tidak malu dengan perempuan2 Mekah, maka aku bisa menerima tawaran Muhammad untuk Islam… ”
wassalam.
Abu Ibrahim.